Teologi terforsir pada saat prolog-prolog belum ke inti.
Mutilasi para pengeluaran mentahan duri itu coba untuk berkhayal sekali lagi.
Bila kau menjadi karang, maka sang fabel ini mencoba menjadi debur ombak yang
memberimu makna-makna yang takkan dapat melindungi dari beruntai-untai tembok baja.
STOP!! Sampai kapan kau menjilatiku? Aku bukan pemurah yang
dapat berakhir dengan sebilah pisau lagi di punggungku.
Datang kemari!!
Kita beradu logika, jangan hanya menyihir kata-kata.
Sehari di duniamu untuk bersenang-senang, sama dengan seribu tahun mengais-ngais
di duniaku untuk mendapatkan sesuap nasi!
Dan bila mulutmu proyektor, maka otakku prosesor. Tujuh tingkat lebih
tinggi dari jabatan paling pintar dari seorang profesor saat kau sulut
sebuah obor.
Aku bisa saja berbicara terbuka "FUCK KAKAS WIT HIS LEGALLY CLAN FROM FUCKIN NGANJUK CITY"
Seorang yang licik adalah mereka yang pengecut, Bila hanya berani tusuk belakang. Siapa kamu
Bilamana segala darimu hanyalah sejentik tanganku?
Hahahaha... Kaki-kakimu yang berpijak di bumi adalah cambuk-cambuk bagimu sendiri. Karna
MATA AKANSEGERA TERBALAS DENGAN MATA!! Ingat!! Keparat sepertimu bukanlah seorang sobat.
Jadi, jangan panggil aku dengan sebutan BRO-mu itu.
Karna aku tak akan sudi kau anggap sobat dari seorang keparat!!
Inngat-ingat.. INI MASIH PROLOG, BELUM INTI