Pernah ku bertanya pada "sang waktu"... "Sobat, dapatkah kau tunjukan padaku dimanakah posisiku saat ini?" Namun bukan jawaban yang kutemukan dari lidah keluhnya agaknya malas untuk menjawab pertanyaan yang kuajukan. Katanya padaku "Untuk apakah kau tanyakan hal itu kawan?" "Karna aku merasa bahwa diriku hanyalah setitik kegelapan dari sebuah magdal." Jawabku tanpa ragu-ragu. Lalu kudengar perkataan dari lidah keluhnya "Kawan baikku, bilakah ku jawab hal ini kau akan mengerti dimanakah jalanmu yang sesungguhnya?" Sebuah pertanyaan yang membuatku heran telah keluar dari mulutnya. Apakah maksud dari pertanyaan tersebut? Lalu kujawab padanya "Mungkinkah?" Tertawalah dia seakan kepenatannya dalam memanggul sekaligus memutar sebuah jarum tanpa henti hilang begitu saja. "Katakan padaku teman, siapakah dia yang telah merubah dirimu hingga kau mulai dapat dan mau untuk merubah auramu?" Tanyanya padaku. Ingin segera ku jawab pertanyaan itu, namun agaknya dia tidak ingin aku menjawab dan segera melanjutkan kata-katanya demikian "Aku mengerti siapa dia sobat. Meski ingin kau tutupi aku tetap mengerti siapa dia"
Kemudian, berjalanlah dia menuju sebuah telaga yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri "Kemarilah, lihatlah, dan amatilah" Dan ku coba untuk lihat sesuatu yang berada di dalam telaga tersebut. Ah dua ekor ikan ternyata. Ada apakah gerangan dengan ikan tersebut sehingga "sang waktu" ingin agar aku mengamati hal tersebut? Tak lama kemudian salah satu dari ikan tersebut pergi meninggalkan yang satunya. Aneh, benar-benar aneh... Setelah ke dua ikan tersebut berpisah, kedua-duanya bagai sebuah batu yang terpecah jadi dua. Sulit sekali disatukan. Kedua ikan tersebut tidaklah seperti pertama ku lihat, yang begitu dekat dan rukun. Ikan yang meninggalkan ikan lainnya itu hanya sesekali mendatangi ikan yang ditinggalkannya tersebut, kemudia kembali pergi ke sisi lain dari telaga tersebut.
Tak lama kemudian "Sang waktu" bertanya kembali padaku "Sekarang kau mengerti di mana posisimu teman?" "Belum." Jawabku. "Setiap manusia ada sebagai pelengkap yang lainnya. Di kala yang satunya merasa tak terlengkapi, dia akan mencari yang lain yang dapat melengkapi dirinya sendiri." Balasnya. Mengangguk aku mendengar kata-katanya. Ya aku adalah pelengkap bagi seseorang, saat aku tak dapat melengkapi hati orang yang pernah menjadi bagian dari hidupku, dia meninggalkan aku karna tak dapat menikmati pelengkapanku padanya. Baginya, kelengkapanku sebagai seseorang yang menasehati dia di kala dia bersalah lebih penting dibanding menjadi bagian hidup. "Sekarang apakah kau mengerti siapakah dirimu dalam terangnya sebuah magdal?" Belum kujawab pertanyaan itu dia kembali menjelaskan "Tak dapat dipungkiri sobatku, bahwa setiap terang pasti membutuhkan gelapan. Dan suatu saat, kau akan tertular terang itu sekaligus akan menularkan kegelapan yang ada dalam dirimu ke pada terang yang lain. Terima hal itu teman, karna inilah aturan sejatinya."
Ya benar... Inilah sejatinya... Hidup tak lebih dari saling menulari dan ditulari. Tergantung dimana posisi kita saat ini. Inilah syarat hidup dalam dunia yang dipenuhi simbiosisme tak beraturan
Dedicated to : Seseorang yang pernah ada dalam auraku... GOD BLESS YA...