Lusa lalu seorang pria tua bertanya padaku, "Siapakah dirimu ini nak?" Dan aku pun menjawabnya, "Aku adalah diriku secara pribadi." Kuamati wajahnya yang terlihat bagaikan akan mendapatkan sebuah isyarat dari bayang-bayang kematian yang tak pernah sedetikpun beristirahat. Tersirat sebuah keraguan di wajah tuanya setelah kuberikan jawaban demikian..... Tak lama kemudian, aku mendengar sebuah suara keluar dari mulut pria tua itu, "Siapakah pribadi itu?" Ah, agaknya dia penasaran dan kembali bertanya padaku. Maka jawabku kepadanya, "Pribadi tersebuat adalah sebuah kegelapan yang paling dalam, dimana hanya terdapat rasa frustasi, kengerian pada kenyataan, keinginan untuk berlari dari kemusnahan, dimana setiap masalah adalah kematian tanpa jalan keluar dan kebencian adalah akarnya." Setelah kujawab demikian, berlalulah dia sembari tersenyum dan berbisik padaku katanya, "Inilah hidup nak, hiruplah asap-asap kesesakan dari sebuah awal tak berujung." Lalu kudengar dia tertawa pelan. Sepertinya dia puas akan jawabanku yang mungkin melambangkan perjalanan hidupnya selama ini seperti yang tersirat di wajah tuanya itu, dan meninggalkanku dengan pertanyaan yang lebih besar dibandingkan pertanyaannya terhadapku.
Kemarin seorang wanita bertanya padaku katanya, "Siapakah dirimu ini hai kau yang diciptakan sebagai adam mempelai hawa?" Terkesima aku mendengar pertanyaan tersebut, agaknya dia ingin memahami seluk beluk dari otak, hati dan pikiran yang telah berkarat ini. Maka jawabku kepadanya, "Aku adalah diriku secara pribadi." "Siapakah pribadi itu hai kau yang diciptakan dan dilahirkan sebagai adam mempelai hawa?" Sama seperti sebelumnya, dia ingin mendapatkan jawaban lebih dalam dari sekedar seorang pria yang menunggu kesia-siaan hidupnya diakhiri dibawah kaki sang Zenotiphe, sang dewa pencabut nyawa. Maka kembali kujawab kepada wanita tersebut, "Pribadi itu adalah sebuah kesepian dalam terangnya magdal, sebuah kesunyian dalam keramaian raksasa berkaki empat, kesendirian di dalam kemurnian hari penentuan dimana setiap pria memberikan tulang rusuknya untuk dipersembahkan kepada pasangannya, layaknya sebuah kado pada pesta ulang tahun sahabatnya, atau sebuah bingkisan pada pesta perkawinan untuk anak dari seorang ayah, sebuah keretakkan dalam sebuah keutuhan, dan juga kehancuran dari sebuah luka yang akan menyayat lebih merah dari sebelumnya." Setelah kujawab demikian, berlalulah wanita yang wajahnya bagaikan meratapi hidup sebagai seorang yang ditakdirkan tanpa hati. Tak lama setelah dia melangkah sekitar dua atau tiga meter, berbaliklah ia dan berkata padaku, "Inilah hidup hai engkau yang dilahirkan sebagai adam mempelai hawa, hiruplah asap-asap kesesakan dari sebuah awal tak berujung." Kemudian berpalinglah kembali matanya dari arah mataku sehingga menatap arah sebaliknya, dan meninggalkanku dengan pertanyaan yang lebih besar dibadingkan pertanyaan wanita tersebut kepadaku.
Hari ini seorang anak kecil bertanya kepadaku demikian, "Siapakah engkau yang dulu pernah mengalami masa-masa sepertiku?" Masih tetap pertanyaan yang sama seperti hari-hari kemarin. "Aku adalah diriku secara pribadi." Kataku. Kembali anak itu bertanya padaku dengan kalimat yang sama persis seperti hari-hari kemarin, "Siapakah pribadi itu?" Tanyanya kepadaku lagi. Maka demikianlah jawabku kepada seorang anak, yang agaknya memiliki beban lebih banyak dari seorang budak yang mengangkut sekarung beras untuk diantarkan pada tuannya dengan menggunakan pundaknya itu, "Pribadi itu adalah tekanan lebih dari sebuah kewajaran, penghinaan atas ketidakadaan, sesuatu yang tertembak layaknya seorang pemburu yang menembak buruannya, penghindaran dan pembuangan lingkungan terhadap kehadiranku, dan kewajiban yang lebih dari sewajarnya, yang akan terus menerus membimbingku dalam lembah kemunafikan dunia, kekejaman alam raya, kesentimentilan galaksi, bahkan kehancuran aura yang telah tertanam pada diriku dari saat aku lahir." Maka tertawalah anak itu dengan suara yang amat sangat keras, sehingga melebihi kerasnya suara dari teriakan alam neraka. Dan katanya kepadaku demikian, "Inilah hidup hai yang pernah mengalami hidup seperti diriku, hiruplah asap-asap kesesakan dari sebuah awal tak berujung." Tak sanggup diriku pada berbagai pertanyaan serupa yang terbesit pada hatiku yang menyerangku bagai anak panah yang melesat bertubi-tubi dan menghantam setiap inci tubuhku. Maka pergilah aku dari tempat itu, dan meninggalkan anak tersebut yang tertawa keras-keras tanpa henti.
Akankah esok hari berbagai bentuk dari topeng manusia kembali bertanya padaku?
Akankah hari esok aku mendapatkan pertanyaan yang lebih menyakitkan dari sebilah pisau yang memotong leher?
Dan dimanakah ujung dari berbagai pertanyaan tersebut?
Bagaimanapun juga,
"INILAH HIDUP, HIRUPLAH ASAP-ASAP KESESAKAN DARI SEBUAH AWAL TAK BERUJUNG."